KONDISI KEMAHASISWAAN UNJ KEMARIN, HARI INI, DAN ESOK

dany agustian

dany agustian

“tak ada aib yang kutemukan dalam diri manusia, melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak menjadi sempurna.”.

-Abu Tammam, Penyair Arab-

Bukan hal yang mudah untuk membuat tulisan ini. Pada momen yang begitu istimewa ini penulis mencoba menampilkan sesuatu yang baru dan berkesempatan juga untuk sedikit menumpahkan harapan dan memercikkan sedikit semangat yang memang harus terus dijaga dan diwariskan dalam setiap waktu kepada setiap generasi. Pewaris baru opmawa UNJ akan segera tebentuk. Tulisan adalah refleksi bersama tentang sebuah kesempurnaan yang niscaya bisa digapai dalam konstruk baru berjudul “Mahasisawa”.

Penulis masih mengingat dengan jelas masa dimana penulis masih berlabel maru (Mahasiswa Baru), dan semua euphoria dan eudaimonia (jika tidak bisa disebut sebagai kesombongan) bergumul dalam diri, merasakan transisi label siswa menjadi mahasiswa, melalui tugas MPA dan selamat datang Mahasiswa Baru di setiap sudut kampus.

Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi jelas terlihat tujuan dari pendirian perguruan tinggi itu sendiri. Perguruan tinggi diasumsikan sebagai wahana bagi segenap civitas akademika untuk bisa melakukan penelitian yang berguna, tempat menimba ilmu dan melakukan proses pendidikan yang pada akhirnya semua ilmu, sumber daya dan kemampuan yang dimiliki harus dapat digunakan sebesar-besarnya untuk diabdikan bagi kesejahteraan masyarakat. Namun benarkah tugas mahasiswa cukup sampai disitu? Lalu apa perbedaan mahasiswa dengan civitas akademika yang lain kalau begitu?

Tiga Peran Mahasiwa sendiri terdiri dari peran moral, sosial, dan intelektual. Mahasiswa sebagai salah satu unsur dalam masyarakat tidak hanya merupakan sebuah entitas yang memiliki posisi yang terhormat ditengah-tengah masyarakat, tetapi juga sebagai generasi yang mampu memberikan suatu kontribusi positif dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat apapun bentuknya. Tanpa mahasiswa apa yang akan terjadi dengan masa depan bangsa Indonesia. Mahasiwa merupakan gabungan dari dua buah kata: Maha dan Siswa. Maha artinya besar dan siswa artinya pembelajar. Dari dua buah kata itu, maka mahasiswa adalah pembelajar yang memiliki fungsi lebih daripada hanya sekedar belajar tetapi lebih dari itu mahasiswa memiliki fungsi-fungsi dalam masyarakat. Fungsi-fungsi mahasiswa yang membedakannya dengan siswa (pembelajar) adalah fungsi sosial dan fungsi polotiknya.

Fungsi-fungsi sosial dan politik mahasiswa ini diejawantahkan dalam bentuk sebuah pergerakan,…ya…pergerakan…tetapi dalam hal ini pergerakan yang sering kita pahami sangat sempit sekali, setiap mendengar kata pergerakan yang sering terbayang dalam benak kita adalah serangkaian demonstrasi-demonstrasi yang bahkan berujung sampai terjadi kerusuhan…dan chaos. Pergerakan tidaklah sebatas itu saudaraku…tetapi pergerakan adalah merupakan suatau langkah untuk melakukan perubahan yang lebih baik terhadap suatu kondisi  dengan beragam cara…oleh karena itu pergerakan bagi mahasiswa lebih ditekankan kepada bagaimana mahasiswa sebagai generasi muda dapat berkarya untuk kejayaan bangsa.

Paling tidak ada dua hal yang (seharusnya) membedakan mahasiswa dengan gerakan-gerakan lainnya yaitu intelektualitasnya dan moralitasnya. Mahasiswa jelas seorang pembelajar yang juga seorang cendekia. Dan jelas mahasiswa berlandaskan moralitas karena mahasiswa tidak memiliki kepentingan-kepentingan politik pragmatis kecuali untuk kepentingan bangsa itu sendiri. Dan lagi peran mahasiswa tidak hanya melakukan kritik-kritikk sosial saja tetapi mampu memeberikan solusi konkret untuk menjawab permasalahan bangsa.

Sejarah telah membuktikan banyak perubahan besar terjadi di dunia ini karena kiprah pemuda. Revolusi perjuangan kemerdekaan di banyak negara banyak digerakkan oleh kaum muda. Yang paling dahsyat adalah Revolusi perkembangan Islam oleh Muhammad SAW, yang diakui oleh para ahli sejarah, diikuti oleh 80 % kaum muda. Salah satunya adalah Usamah bin Zaid, seseorang yang baru berusia 18 tahun namun telah menjadi pemimpin perang. Hal ini pun menunjukkan bahwa seseorang bisa berkarya walaupun usianya masih muda.  Dalam Al Quran sendiri kata-kata generasi ‘muda’ lebih banyak disebut dibanding generasi ‘tua’.  Ir. Soekarno, Presiden RI pertama bahkan pernah mengatakan, “Berikan kepadaku 10 orang pemuda, maka akan ku rubah dunia“. Artinya betapa penting peran generasi muda dalam hal ini mahasiswa dalam melakukan perubahan nasib bangsa.

Melihat strategisnya peran mahasiswa dalam melakukan transformasi sosial untuk bangsa, tidak berlebihan kiranya apabila label sebagai agen peubah (Agent of change) masih harus dilekatkan kepada mahasiswa. Di tangan mahasiswalah perubahan-perubahan fundamental bangsa ini dimulai. Sadar atau tidak, mahasiswa mengemban beban moral sebagai lokomotif penggerak perubahan bangsa. Pada pundak mahasiswa pula, harapan dan cita-cita perbaikan digantungkan, amanah sebagi sumber daya intelektual bangsa (iron stock) menyebabkan mahasiswa saat ini memiliki pekerjaan sungguh berat, memenuhi ekspektasi kecerdasan akademis dari kampusnya, sambil harus terus mengasah kemampuan dan skill lainnya yang nantinya akan berguna menjadi sumbangsih bagi bangsa ini kelak. Dan sebagai penggerak moral (moral of force) mahasiswa dituntut untuk selalu peka dan peduli pada lingkungan sekitar, pada pada kenyataan empirik dan realitas sosial bangsa ini. Mahasiswa tidak bisa hanya diam dan nyaman dininabobokan oleh dinginnya AC ruang kampus, merasa cukup hanya dengan belajar rajin dan mendapat IPK tinggi, atau bahkan merasa sudah cukup ’tersiksa’ dengan semua beban tugas kuliah yang menumpuk, tapi lupa berterima kasih kepada masyarakat, lupa untuk bersikap kritis pada pemerintah, lupa untuk menjawab dan memberikan solusi bagi permasalahan bangsa ini, dan semua hal yang memang harus dicarikan solusi dan jawaban konkretnya. Meskipun banyak permasalahan-permasalahan yang menghadang dihapannya itu tidak menjadi sebuah alasan untuk mundur.

Sebagai contoh konkret dapat kita ambil BEM UNJ. Tahun 2009 merupakan masa yang berat untuk BEM UNJ di bawah kepemimpinan Ali Sibro Malisi, Hal ini terjadi karena hadirnya berbagai momentum besar dalam dan luar kampus yang menuntut BEM UNJ untuk bekerja melampaui batas kapasitas yang semestinya. Dalam sebuah prinsip yang saya yakini bahwa semakin besar tantangan yang akan kita hadapi maka akan semakin besar pula peluang kita untuk menjadi besar karena tantangan itu. Dalam kaca mata inilah saya akan berbicara tentang BEM UNJ di bawah kepemimpinan Ali Sibro Malisi.

Sebagai lembaga publik sudah sepantasnya BEM UNJ membuka peluang sebesar-besarnya bagi berbagai stakeholder untuk memberikan masukan terkait arah geraknya. Di awal kepengurusannya BEM UNJ 2009 sudah membuka pintu-pintu keterbukaan itu kunjungan BEM UNJ ke BEM Fakultas dan BEM jurusan, Kunjungan BEM UNJ ke pemegang kebijakan-kebijakan Universitas, sudah mereka lakukan. Hasilnya pun jelas, semua ini mereka jadikan bahan pertimbangan rapat kerja BEM UNJ 2009. Ketika dalam perjalananpun BEM UNJ masih membuka peluang bagi berbagai stakeholder untuk mengawasi dan memberikan masukan terhadap karya-karya mereka. Walaupun demikian penulis melihat ada stakeholder yang saat ini belum tergarap dengan baik dalam hal aspirasi, mereka adalah mahasiswa umum. Walaupun asumsi yang ada adalah mahasiswa tersebut sudah di wakili oleh BEM Fakultas dan BEM Jurusan tetapi sudahkan aspirasi tersebut terorganisir dengan rapi, dalam artian apakah yang disampaikan BEM Fakultas dan BEM Jurusan sudah mewakili aspirasi mahasiswa yang mereka bawahi, apa indikator itu semua, apa instrumen yang bisa menguatkan asumsi itu. Inilah yang ke depan harus di strategikan oleh BEM UNJ 2010.

Jika kita melihat sisi lain khususnya, tidak bisa kita pungkiri bahwa BEM UNJ sudah bisa memberikan karya-karya terbaik mereka yang telah mereka persembahkan untuk mahasiswa UNJ. Mulai dari Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Universitas, Semiar Lokakarya Pendidikan, Advokasi Permasalahan Mahasiswa, Diskusi-Diskusi Politik Kontemporer, Debat Calon Rektor, ESQ (mudah-mudahan terlaksana), dan EXPO UNJ (mudah-mudahan juga terlaksana). Inilah yang sesugguhnya menjadi senjata politik pencitraan BEM UNJ 2009. Namun jika kita kembali ke eksistensi maka permasalahan utama semua OPMAWA hari ini adalah sudah seberapa terlihatkah karya-karya BEM UNJ dimata mahasiswa, bagaimana animo mahasiswa terhadap agenda-agenda yang telah kita persembahkan tadi. Jika kita ingin menjawab animo mahasiswa maka kita akan bertemu dasar pertanyaan masalah ini yaitu seberapa butuhkan mahasiswa UNJ terhadap karya-karya kita. Terkadang asumsi yang kita pakai adalah asumsi kebutuhan mahasiswa versi kita bukan versi mahasiswa itu sendiri. Untuk persoalan keterlihatan karya-karya BEM UNJ maka PR kedepan adalah hadirnya sense politik BEM UNJ dengan respone dan kapasitas pencitraan yang tinggi untuk memanfaatkan Media sebagai alat pencitraan BEM UNJ. Seberapa banyakpun karya-karya yang kita persembahkan kepada mahasiswa tanpa pernah kita sadari bahwa posisi media begitu penting bagi organisasi maka sia-sialah apa yang kita lakukan dalam kacamata manusia. Oleh karena itu mari sejenak kita bisa belajar dari partai demokrat dalam hal pencitraan lembaga dan juga Partai Keadilan Sejahtera dalam hal gaya pencitraan.

Sebagai lembaga formal yang memiliki legalitas maka posisi BEM UNJ sangat strategis dalam mengontrol kebijakan kampus untuk mengakomodir kepentingan mahasiswa dan kemajuan kampus. Peranan ini diwujudkan dengan membangun komunikasi yang baik dengan rektorat selaku pemegang kebijakan kampus serta pihak pemegang kebijakan lainnya. Namun kita-pun harus berada pada posisi yang jelas bahwa hari ini kita bukan ”antek-antek” mereka. Dalam memaknai kalimat ini kitapun harus siap berkata tidak terhadap pihak pemangang kebijakan dan siap beroposisi terhadap mereka ketika memang kebijakan yang mereka keluarkan tidak pro terhadap mahasiswa. Imbas terhadap sikap kitapun jelas maka mari sejenak kita belajar dari BEM UI yang sejenak posisinya telah dibekukan oleh pemegang kebijakan universitasnya. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah sudah seberapa besar basis massa yang hari ini BEM UNJ telah kuasai. Salah satu indikatornya adalah berapa orang yang hari ini bisa BEM UNJ gerakkan ketika memang BEM UNJ mengeluarkan sebuah seruan ataupun saat BEM UNJ sedang menghadapi sebuah masalah (mis:ketika ketua BEM UNJ dihajar oleh orang lain). Hal ini terasa penting karena suatu waktu bisa jadi kasus yang terjadi terhadap BEM UI bisa terjadi kepada BEM UNJ. Jangan sampai ketika hari ini memperjuangkan nasib mahasiswa karena kesewenang-wenangan Pimpinan Universitas tetapi kita sendiri tidak didukung oleh mahasiswa sehingga PR untuk pejuang berikutnya adalah secerdas mungkin melakukan manajemen isu akar basis-basis massa UNJ semakin jelas dan semakin luas.

Namun sebelum kita berbicara tentang sikap dan basis massa kita maka hari ini kitapun harus memperluas kapasitas kita dalam mengelola isu. Hari ini belum banyak data yang berhasil BEM UNJ paparkan terkait dengan kebijakan-kebijakan kampus. Maka yang menjadin tantangan untuk hari esok adalah bagaimana kita meningkatkan politik reportase kita (seperti pencarian data, wawancara, investigasi, dll) terhadap kebijakan yang akan kita sikapi. Selain itu kita juga harus membuka ruang publik untuk memperluas memperbesar isu (angket, poster yang berisi masukan, dll)

Setelah kita berbicara tentang komponen-komponen BEM UNJ hari ini, kitapun harus berbicara tentang cara BEM UNJ memanfaatkan momentum-momentum yang ada. Begitu banyak momentum internal yang tersedia dihadapan BEM UNJ hari ini dari momentum Pemilihan Calon Rektor, BLU dan IDB. Di antara 3 momentum tersebut nampaknya hanya satu yang tergunakan dengan baik momentum itu adalah pemilihan calon rektor dimana BEM UNJ melakukan kontrak politik terhadap calon-calon yang ada. Namun ketika kita mengkaji lebih dalam maka terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki karena cita-cita menghadirkan Paper UNJ versi Mahaiswa tidak terlaksana, diskusi-diskusi tentang UNJ masa depan yang sebenarnya sudah direncanakan tidak berjalan dengan baik. Namun semua itu terbayar oleh hadirnya momentum kontrak politik terhadap calon yang ada. Tidak seberuntung Pemilihan Calon Rektor, 2 momentum lain nampaknya tidak terberdayakan dengan baik IDB dan BLU nampaknya akan menjadi PR besar bagi BEM UNJ yang akan datang untuk memanfaatkannya.

Momentum Eksternal yang ada dihadapan BEM UNJ yaitu pemilu ibaratkan dua sisi mata uang. Satu sisi terdapat sisi positif dimana BEM UNJ menjadi leader bagi BEM-BEM Universitas lain dalam menggalang isu ini. Hal ini dibuktikan dengan seringnya BEM-BEM tersebut melakukan diskusi-diskusi kecil untuk menyikapi pemilu kali ini. Namun disisi lain apa yang dijalankan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan pencerdasan-pencerdasan pemilu berjalan parsial, advokasi mahasiswa tidak berjalan optimal karena minimnya koordinasi dengan elemen yang lebih kecil. Memang ini bukan sebuah hal yang hanya di tanggung BEM UNJ tetapi lebih kepada kurangnya koordinasi yang dilakukan oleh Korpus BEM SI. Namun perjuangan menghadapi momentum ini ditutup dengan sebuah hal yang begitu indah dengan aksi 1000 massa saat pelantikan SBY-Boediono. Semoga ini bisa menjadi manifestasi perjuangan bagi pejuang-pejuang yang akan datang.

Aspek yang tak kalah penting adalah hubungan BEM UNJ dengan masyarakat. Aksi-Aksi galang dana BEM UNJ sudah membuktikan BEM UNJ peduli terhadap rakyat. Hal ini diperindah dengan hadirnya Commonity Development terhadap masyarakat pedongkelan. Namun yang menjadi PR BEM UNJ hari esok adalah membangun kembali hubungan hati dengan rakyat melalui gerakan-gerakan konkrit yang menyindir pemerintah seperti gerakan seliter beras yang merupakan sindiran atas mahalnya bahan pokok, gerakan seliter minyak tanah sebagai sindiran atas kenaikan bahan bakar, dan lain sebagainya.

Untuk menghadapi momentum tersebut diperlukan sebuah kekuatan besar di dalam kampus agar dalam perjalanannya mengawal momentum ini BEM UNJ tidak kehabisan tenaga bahkan tidak berdaya. Pendekatan formal dan informal dilakukan oleh BEM UNJ baik kepada OPMAWA maupun ORMAWA sebagai bentuk sinergisitas dalam upaya memperbesar basis pendukung gerakan. Untuk pendekatan OPMAWA nampaknya PR besar dari BEM UNJ yang akan datang adalah menyebarkan semangat pertemuan tidak hanya pada ketua-ketua lembaga tetapi juga kepada departemen-departemen yang ada dibawahnya. Khusus untuk sinergisitas dengan OPMAWA nampaknya kedepan BEM UNJ harus memiliki prinsip yang tegas apakah sinergisitas kepada mereka (beberapa ormawa)  begitu penting untuk dilanjutkan disaat mereka (beberapa ormawa) sudah tidak menganggap keberadaan UNJ. Jika ia apa batasan-batasannya, jika tidak siapkah BEM UNJ menanggung semua konsekuensi yang akan BEM UNJ dapatkan.

Terlepas dari apa yang telah dikerjakan oleh pejuang hari ini menjadi sebuah keniscayaan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia karena kesempurnaan hanyalah milik Allah, ada kelebihan juga pasti ada kekurangannya. Namun yang menjadi perhatian adalah bagaimana adik-adik yang akan melanjutkan perjuangan ini juga menganggap BEM UNJ seperti bangunan yang ketika ada tembok yang masih bagus maka jangan pernah merobohkan tembok itu lagi atau menambalnya karena itu menjadi perbuatan yang membuang-buang tenaga tetapi tinggal di cat saja untuk mempercantik tembok tersebut. Ketika ada tembok yang masih bolong maka tamballah. Jika ada tembok yang sudah roboh maka menjadi tugas pekerja berikutnya untuk membangun tembok tersebut mejadi tembok yang lebih baik.

Mahasiswa memang bukan dewa, dimana masalah akan bisa selesai hanya dengan kita sekali menjentikkan jari. Tapi percayalah, ketika kesadaran kritis sebagai seorang mahasiswa yang paripurna (cerdas, aktif, empati dan kritis) sudah kita dapatkan, maka semua ikhtiar untuk berkontribusi pada alamamater, bangsa, dan negara ini tidak akan pernah sia-sia. Karena hakekat kemahasiswaan kita terdapat pada seberapa besar niat lurus, bersih, dan peduli kita hadir untuk mau terus mengusahakan yang terbaik, pada seberapa tinggi kita menempatkan moral dan integritas sebagai hal penting, pada seberapa tajam dan jernih logika kita pakai, dan pada akhirnya, hakikat kemahasiswaan kita terdapat pada seberapa mau kita melecut diri kita sendiri untuk bergerak dari zona nyaman wacana (tahu, mengerti, dan faham) menuju ke area praksis: konkret untuk brgerak!! Dan memberikan sumbangsih karya terbaik kita untuk kejayaan bangsa!!. Maka, menjadi sempurnalah Mahasiswa!!! Kita bisa menjadi sempurna dan paripurna.

Akhirul kalam, penulis dengan keharuan yang membuncah dalam dada dan harapan tinggi akan lahirnya pejuang-pejuang muda baru yang siap memberikan karya terbaiknya untuk bangsa mengucapkan Selamat bergabung dalam barisan orang-orang yang selalu optimis untuk bergerak konkret “Tak Sekedar Kata”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: