ANTARA HARI INI DAN HARI ESOK

Tak Sekedar Kata

Tak Sekedar Kata

Ibaratkan bangunan maka BEM UNJ adalah sebuah bangunan yang sedang dibangun oleh para pekerja-pekerjanya. Setiap tahun pekerjapun berganti namun bukan berarti bangunanpun dirobohkan oleh pekerja yang baru namun pekerja yang baru-pun terus melanjutkan bangunan yang telah dikerjakan oleh para pekerja sebelumnya.

BEM UNJ 2009 di bawah kepemimpinan Ali Sibro Malisi telah membawa begitu banyak perubahan bagi UNJ baik untuk Lembaga Kemahasiswaan maupun untuk UNJ secara keseluruhan. Dibawah kepemimpinannya BEM UNJ seakan menjadi kucing yang siap besar untuk menjadi anak macan. Yang harus kita sadari bahwa BEM UNJ 2009 telah menanamkan podasi organisasi ini yang begitu kuat, sehingga pejuang hari esok harus berterima kasih atas apa yang telah mereka tinggalkan untuk hari esok.

Namun jama’ah ini mengajarkan bahwa kita harus proporsional dalam menilai sesuatu. Ketika terdapat kelebihan di dalamnya maka katakanlah dengan jujur. Namun ketika ada kekurangan di dalamnya maka koreksilah perbuatan itu dengan sopan. Yang menjadi sebuah kepastian adalah jangan sampai kekurangan-kekurangan ini membuat mata kita tertutup atas apa yang telah mereka persembahkan untuk da’wah kampus hari ini.

Tahun 2009 merupakan masa yang berat untuk BEM UNJ di bawah kepemimpinan Ali Sibro Malisi, Hal ini terjadi karena hadirnya bebagai momentum besar dalam dan luar kampus yang menuntut BEM UNJ untuk bekerja melampaui batas kapasitas yang semestinya. Dalam sebuah prinsip yang saya yakini bahwa semakin besar tantangan yang akan kita hadapi maka akan semakin besar pula peluang kita untuk menjadi besar karena tantangan itu. Dalam kaca mata inilah saya akan berbicar tentang BEM UNJ di bawah kepemimpinan Ali Sibro Malisi.

Sebagai lembaga publik sudah sepantasnya BEM UNJ membuka peluang sebesar-besarnya bagi berbagai stakeholder untuk memberikan masukan terkait arah geraknya. Di awal kepengurusannya BEM UNJ 2009 sudah membuka pintu-pintu keterbukaan itu kunjungan BEM UNJ ke BEM Fakultas dan BEM jurusan, Kunjungan BEM UNJ ke pemegang kebijakan-kebijakan Universitas, sudah mereka lakukan. Hasilnya pun jelas, semua ini mereka jadikan bahan pertimbangan rapat kerja BEM UNJ 2009. Ketika dalam perjalananpun BEM UNJ masih membuka peluang bagi berbagai stakeholder untuk mengawasi dan memberikan masukan terhadap karya-karya mereka. Walaupun demikian saya melihat ada stakeholder yang saat ini belum tergarap dengan baik dalam hal aspirasi, mereka adalah mahasiswa umum. Walaupun asumsi yang ada adalah mahasiswa tersebut sudah di wakili oleh BEM Fakultas dan BEM Jurusan tetapi sudahkan aspirasi tersebut terorganisir dengan rapi, dalam artian apakah yang disampaikan BEM Fakultas dan BEM Jurusan sudah mewakili aspirasi mahasiswa yang mereka bawahi, apa indikator itu semua, apa instrumen yang bisa menguatkan asumsi itu. Inilah yang ke depan harus di strategikan oleh BEM UNJ 2010.

Jika kita melihat sisi lain khususnya, tidak bisa kita pungkiri bahwa BEM UNJ sudah bisa memberikan karya-karya terbaik mereka yang telah mereka persembahkan untuk mahasiswa UNJ. Mulai dari Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Universitas, Semiar Lokakarya Pendidikan, Advokasi Permasalahan Mahasiswa, Diskusi-Diskusi Politik Kontemporer, Debat Calon Rektor, ESQ (mudah-mudahan terlaksana), dan EXPO UNJ (mudah-mudahan juga terlaksana). Inilah yang sesugguhnya menjadi senjata politik pencitraan BEM UNJ 2009. Namun jika kita kembali ke eksistensi maka permasalahan utama semua OPMAWA hari ini adalah sudah seberapa terlihatkah karya-karya BEM UNJ dimata mahasiswa, bagaimana animo mahasiswa terhadap agenda-agenda yang telah kita persembahkan tadi. Jika kita ingin menjawab animo mahasiswa maka kita akan bertemu dasar pertanyaan masalah ini yaitu seberapa butuhkan mahasiswa UNJ terhadap karya-karya kita. Terkadang asumsi yang kita pakai adalah asumsi kebutuhan mahasiswa versi kita bukan versi mahasiswa itu sendiri. Untuk persoalan keterlihatan karya-karya BEM UNJ maka PR kedepan adalah hadirnya sense politik BEM UNJ dengan respone dan kapasitas pencitraan yang tinggi untuk memanfaatkan Media sebagai alat pencitraan BEM UNJ. Seberapa banyakpun karya-karya yang kita persembahkan kepada mahasiswa tanpa pernah kita sadari bahwa posisi media begitu penting bagi organisasi maka sia-sialah apa yang kita lakukan dalam kacamata manusia. Oleh karena itu mari sejenak kita bisa belajar dari partai demokrat dalam hal pencitraan lembaga dan juga Partai Keadilan Sejahtera dalam hal gaya pencitraan.

Sebagai lembaga formal yang memiliki legalitas maka posisi BEM UNJ sangat strategis dalam mengontrol kebijakan kampus untuk mengakomodir kepentingan mahasiswa dan kemajuan kampus. Peranan ini diwujudkan dengan membangun komunikasi yang baik dengan rektorat selaku pemegang kebijakan kampus serta pihak pemegang kebijakan lainnya. Namun kita-pun harus berada pada posisi yang jelas bahwa hari ini kita bukan ”antek-antek” mereka. Dalam memaknai kalimat ini kitapun harus siap berkata tidak terhadap pihak pemangang kebijakan dan siap beroposisi terhadap mereka ketika memang kebijakan yang mereka keluarkan tidak pro terhadap mahasiswa. Imbas terhadap sikap kitapun jelas maka mari sejenak kita belajar dari BEM UI yang sejenak posisinya telah dibekukan oleh pemegang kebijakan universitasnya. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah sudah seberapa besar basis massa yang hari ini BEM UNJ telah kuasai. Salah satu indikatornya adalah berapa orang yang hari ini bisa BEM UNJ gerakkan ketika memang BEM UNJ mengeluarkan sebuah seruan ataupun saat BEM UNJ sedang menghadapi sebuah masalah (mis:ketika ketua BEM UNJ dihajar oleh orang lain). Hal ini terasa penting karena suatu waktu bisa jadi kasus yang terjadi terhadap BEM UI bisa terjadi kepada BEM UNJ. Jangan sampai ketika hari ini memperjuangkan nasib mahasiswa karena kesewenang-wenangan Pimpinan Universitas tetapi kita sendiri tidak didukung oleh mahasiswa sehingga PR untuk pejuang berikutnya adalah secerdas mungkin melakukan manajemen isu akar basis-basis massa UNJ semakin jelas dan semakin luas.

Namun sebelum kita berbicara tentang sikap dan basis massa kita maka hari ini kitapun harus memperluas kapasitas kita dalam mengelula isu. Hari ini belum banyak data yang berhasil BEM UNJ paparkan terkait dengan kebijakan-kebijakan-kebijakan kampus. Maka yang menjadin tantangan untuk hari esok adalah bagaimana kita meningkatkan politik reportase kita (seperti pencarian data, wawancara, investigasi, dll) terhadap kebijakan yang akan kita sikapi. Selain itu kita juga harus membuka ruang publik untuk memperluas memperbesar isu (angket, poster yang berisi masukan, dll)

Setelah kita berbicara tentang komponen-komponen BEM UNJ hari ini, kitapun harus berbicara tentang cara BEM UNJ memanfaatkan momentum-momentum yang ada. Begitu banyak momentum internal yang tersedia dihadapan BEM UNJ hari ini dari momentum Pemilihan Calon Rektor, BLU dan IDB. Di antara 3 momentum tersebut nampaknya hanya satu yang tergunakan dengan baik momentum itu adalah pemilihan calon rektor dimana BEM UNJ melakukan kontrak politik terhadap calon-calon yang ada. Namun ketika kita mengkaji lebih dalam maka terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki karena cita-cita menghadirkan Paper UNJ versi Mahaiswa tidak terlaksana, diskusi-diskusi tentang UNJ masa depan yang sebenarny sudah direncanakan tidak berjalan dengan baik. Namun semua itu terbayar oleh hadirnya momentum kontrak politik terhadap calon yang ada. Tidak seberuntung Pemilihan Calon Rektor, 2 momentum lain nampaknya tidak terberdayakan dengan baik IDB dan BLU nampaknya akan menjadi PR besar bagi BEM UNJ yang akan datang untuk memanfaatkannya.

Momentum Eksternal yang ada dihadapan BEM UNJ yaitu pemilu ibaratkan dua sisi mata uang. Satu sisi terdapat sisi positif dimana BEM UNJ menjadi leader bagi BEM-BEM Universitas lain dalam menggalang isu ini. Hal ini dibuktikan dengan seringnya BEM-BEM tersebut melakukan diskusi-diskusi kecil untuk menyikapi pemilu kali ini. Namun disisi lain apa yang dijalankan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan pencerdasan-pencerdasan pemilu berjalan parsial, advokasi mahasiswa tidak berjalan optimal karena minimnya koordinasi dengan elemen yang lebih kecil. Memang ini bukan sebuah hal yang hanya di tanggung BEM UNJ tetapi lebih kepada kurangnya koordinasi yang dilakukan oleh Korpus BEM SI. Namun perjuangan menghadapi momentum ini ditutup dengan sebuah hal yang begitu indah dengan aksi 1000 massa saat pelantikan SBY-Boediono. Semoga ini bisa menjadi manifestasi perjuangan bagi pejuang-pejuang yang akan datang.

Aspek yang tak kalah penting adalah hubungan BEM UNJ dengan masyarakat. Aksi-Aksi galang dana BEM UNJ sudah membuktikan BEM UNJ peduli terhadap rakyat. Hal ini diperindah dengan hadirnya Commonity Development terhadap masyarakat pedongkelan. Namun yang menjadi PR BEM UNJ hari esok adalah membangun kembali hubungan hati dengan rakyat melalui gerakan-gerakan konkrit yang menyindir pemerintah seperti gerakan seliter beras yang merupakan sindiran atas mahalnya bahan pokok, gerakan seliter minyak tanah sebagai sindiran atas kenaikan bahan bakar, dan lain sebagainya.

Untuk menghadapi momentum tersebut diperlukan sebuah kekuatan besar di dalam kampus agar dalam perjalanannya mengawal momentum ini BEM UNJ tidak kehabisan tenaga bahkan tidak berdaya. Pendekatan formal dan informal dilakukan oleh BEM UNJ baik kepada OPMAWA maupun ORMAWA sebagai bentuk sinergisitas dalam upaya memperbesar basis pendukung gerakan. Untuk pendekatan OPMAWA nampaknya PR besar dari BEM UNJ yang akan datang adalah menyebarkan semangat pertemuan tidak hanya pada ketua-ketua lembaga tetapi juga kepada departemen-departemen yang ada dibawahnya. Khusus untuk sinergisitas dengan OPMAWA nampaknya kedepan BEM UNJ harus memiliki prinsip yang tegas apakah sinergisitas kepada mereka (beberapa ormawa)  begitu penting untuk dilanjutkan disaat mereka (beberapa ormawa) sudah tidak menganggap keberadaan UNJ. Jika ia apa batasan-batasannya, jika tidak siapkah BEM UNJ menanggung semua konsekuensi yang akan BEM UNJ dapatkan.

Terlepas dari apa yang telah dikerjakan oleh pejuang hari ini menjadi sebuah keniscayaan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia karena kesempurnaan hanyalah milik Allah, ada kelebihan juga pasti ada kekurangannya. Namun yang menjadi perhatian adalah bagaimana adik-adik yang akan melanjutkan perjuangan ini juga menganggap BEM UNJ seperti bangunan yang ketika ada tembok yang masih bagus maka jangan pernah merobohkan tembok itu lagi atau menambalnya karena itu menjadi perbuatan yang membuang-buang tenaga tetapi tinggal di cat saja untuk mempercantik tembok tersebut. Ketika ada tembok yang masih bolong maka tamballah. Jika ada tembok yang sudah roboh maka menjadi tugas pekerja berikutnya untuk membangun tembok tersebut mejadi tembok yang lebih baik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: